Tags

, , , , ,

Hari Sabtu yang indah, duduk di depan komputer, di sebelah jendela. Terdengar suara burung berkicau di atas pohon belimbing yang terletak tepat di depan jendela (Kayak lagi nulis cerpen aja). Lagi-lagi bengong setiap hari Sabtu. Mulai deh cari-cari film yang bagus buat ditonton. Pilihan saya jatuh pada satu film Korea keluaran tahun 2002 berjudul The Way Home ((집으로 – Jibeuro) yang mengisahkan kehidupan seorang cucu dengan neneknya.

Sang-woo dan ibunya

Sang-woo dan ibunya

Sang-woo (Yu Seung-ho) dan ibunya pergi ke sebuah desa untuk mengunjungi sang nenek (Kim Eul-boon) yang bisu, tapi tidak tuli. Ternyata maksud ibunya adalah menitipkan Sang-woo kepada sang nenek. Ia bercerai dengan suaminya dan tokonya bangkrut. Keadaan ini memaksa sang Ibu untuk mencari pekerjaan baru di Seoul. Sang-woo dititipkan selama kurang lebih dua bulan. Setelah ia mendapat pekerjaan, barulah kemudian ia menjemput Sang-woo pulang.

Sang-woo tidak menyukai neneknya

Sang-woo tidak menyukai neneknya

Terbiasa dengan kehidupan kota yang serba praktis dan mewah, Sang-woo merasa berat hidup di desa yang serba kekurangan. Ia juga tidak menyukai nenek dan terus-terusan mengolok-oloknya. Selain itu, ia juga sering merengek-rengek meminta sesuatu. Saat gameboy yang ia miliki kehabisan baterai, ia meminta uang kepada sang nenek untuk dibelikan baterai baru. Sang nenek yang miskin tidak mampu membelikannya. Sang-woo marah dan mengobrak-abrik rumah sang nenek. Tapi sang nenek tidak pernah marah satu kalipun dan tetap sabar menghadapinya. Tidak berhasil membuat sang nenek membelikan baterai, Sang-woo mencuri tusuk konde sang nenek untuk ditukar dengan baterai di toko. Untung saja, si pemilik toko mengetahui pemilik tusuk konde tersebut. Ia marah kepada Sang-woo dan memukul kepalanya dengan tusuk konde tersebut serta mengusirnya.

Sang-woo menjelaskan KFC kepada neneknya

Sang-woo menjelaskan KFC kepada neneknya

Suatu hari, Sang-woo ingin dibuatkan Kentucky Fried Chicken. Sang nenek yang hanya mengerti kata Chicken menyanggupinya. Ia pergi ke pasar dengan membawa melon hasil panennya untuk ditukarkan dengan ayam. Sang nenek kembali ke rumahnya dari pasar dengan menerobos hujan lebat. Setelah dimasak, Sang-woo kecewa berat karena ayam tersebut bukan digoreng, melainkan direbus. Ia menangis sejadi-jadinya, tidak mau makan, dan menumpahkan makanannya. Tapi pada akhirnya dimakan juga karena saat tengah malam, ia kelaparan. Keesokan harinya, sang nenek jatuh sakit karena sehari sebelumnya ia kehujanan. Sang-woo yang melihat sang nenek sakit, langsung menutupinya dengan selimut tebal dan kepalanya diberi handuk basah. Ia kemudian mempersiapkan makan pagi, sisa ayam kemarin yang direbus.

Sang-woo merawat nenek

Sang-woo merawat nenek

Cinta sang nenek lama kelamaan membuat Sang-woo luluh hatinya. Suatu hari ia ikut dengan nenek pergi ke pasar. Ia melihat sang nenek menjual melonnya dengan susah payah di pinggir jalan. Uang hasil jualnya digunakan untuk membelikan Sang-woo sepatu baru dan memberi makan yang cukup enak di restoran. Selain itu, saat Sang-woo ingin berkunjung ke rumah teman barunya yang ia senangi, sang nenek membungkus gameboy Sang-woo dan diam-diam dimasukkan ke dalam tasnya. Dalam perjalanan, Sang-woo mengetahuinya dan membuka bungkusan tersebut. Ternyata di dalamnya terselip uang sisa hasil menjual melon untuk membeli baterai baru. Kontan, hal ini membuat Sang-woo merasa terharu dan air matanya tak terbendung lagi.

Sang-woo memberikan kartu bergambar pada nenek

Sang-woo memberikan kartu bergambar pada nenek

Tibalah saatnya sang Ibu akan menjemput Sang-woo. Ia mengirim surat kepada sang nenek dan akan menjemput Sang-woo beberapa hari kemudian. Selama ia bersama sang nenek, Sang-woo berubah dari anak yang manja dan nakal menjadi anak yang hormat terhadap orang lain, terutama pada yang lebih tua. Karena sang nenek tidak bisa bicara, membaca ataupun menulis, Sang-woo membuatkannya banyak kartu bergambar yang bertuliskan “Aku sakit” dan “Aku rindu padamu”. Bila sang nenek mengirimkan salah satu kartu tersebut, Sang-woo akan segera mengunjunginya kembali. Cinta Sang-woo pada sang nenek terlihat saat perpisahan di pemberhentian bus. Ia meminta maaf atas kenakalannya dengan menggunakan bahasa isyarat seperti yang sering dilakukan neneknya dan melambai-lambaikan tangannya mengucapkan selamat tinggal di dalam bus sambil menitikkan air mata.

Nenek akan memotong rambut Sang-woo

Nenek akan memotong rambut Sang-woo

Sederhana dan bermakna dalam. Itulah dua kata yang pantas diberikan pada The Way Home. Film ini memang sederhana karena hanya menggambarkan kehidupan bersama-sama antara seorang anak kota dengan seorang nenek di desa. Tetapi makna di balik film ini sangatlah dalam. Kita diajak untuk melihat bagaimana cinta dan kesabaran sang nenek mampu mengubah sifat sang cucu menjadi sedikit lebih dewasa. Selain itu, maksud dari sang sutradara perempuan dalam pembuatan film ini adalah kita diajak untuk menghargai orang-orang terdekat kita yang sudah tua, atau paling sedikit tidak sampai menelantarkan mereka.

Sang-woo menangis rewel saat tidak mendapatkan KFC

Sang-woo menangis rewel saat tidak mendapatkan KFC

Pada awal film, saya merasa gregetan pada Sang-woo karena sifat manjanya. Rasanya pengen saya cekik tuh anak karena tidak sopan dengan orang yang lebih tua (Wuih! Sadis amat!). Cara ber-acting Yu Seung-ho kecil sama seperti… anak kecil. Sangat alamiah dan tidak dibuat-buat seperti acting orang dewasa. Yang lebih menarik lagi adalah acting Kim Eul-boon yang memerankan sang nenek. Ia adalah penduduk asli di desa tempat syuting dilakukan. Ia belum pernah ber-acting sebelumnya dan bahkan belum pernah menonton film. Meskipun begitu, acting-nya juga bisa dibilang sangat bagus walau tanpa dialog sama sekali.

Secara keseluruhan, film ini sangat bagus untuk ditonton bersama keluarga.  Pada akhir film, sang sutradara menambahkan sebuah kalimat yang menyebutkan bahwa film ini didekasikan untuk semua nenek di dunia.

Nenek membersihkan air mata Sang-woo karena menangis setelah terjatuh

Nenek membersihkan air mata Sang-woo karena menangis setelah terjatuh