Tags

, , , , , , , ,

Terkadang kita memiliki kenangan yang indah dan tak terlupakan di masa kecil kita. Pernahkah Anda berpikir untuk mengalami kembali masa kecil Anda? Film yang berjudul Fan Chan (Thai: แฟนฉัน, English: My Girl) dan sempat merajai box office Thailand di tahun 2003 ini akan memunculkan kembali ingatan-ingatan di masa kecil kita.

Jeab adalah seorang pemuda Thailand yang bekerja di Bangkok. Suatu hari, ia mendapat kabar dari ibunya, bahwa sahabat masa kecilnya, Noi-Naa, akan segera menikah. Kenangan yang dulu sudah terlupakan teringat kembali. Cerita kemudian beralih ke masa kecil Jeab dan Noi-Naa di tahun 80-an.

Dua Ayah yang Saling Bersaing

Dua Ayah yang Saling Bersaing

Jeab (Charlie Trairat) dan Noi-Naa (Focus Jirakul) tinggal di sebuah kota kecil di Thailand. Mereka adalah sahabat dekat yang tak terpisahkan sejak masih balita. Ayah mereka adalah tukang cukur yang bersaing satu sama lain. Ayah Noi-Naa dulu adalah seorang seniman, sehingga ia lebih senang menggunakan gunting dan memotong rambut dengan pendekatan artistik, sedangkan ayah Jeab lebih modern, yaitu dengan menggunakan mesin alat cukur. Jeab tidak bisa melihat perbedaan hasil potong dari keduanya. Kedua toko mereka sangat dekat, hanya terpisahkan satu toko kelontong. Walaupun ayah mereka saling bersaing, tapi ibu mereka sangat dekat. Ibu Jeab suka sekali mengomel. Setiap ada masalah, besar atau kecil selalu mengomel. Ia sering memukul Jeab bila pulang terlalu malam.

Jeab memberikan bunga ke Noi-Naa

Jeab memberikan bunga ke Noi-Naa

Jeab memiliki kebiasaan bangun kesiangan. Tiap pagi, ia selalu diantar ayahnya menggunakan sepeda motor untuk mengejar bis sekolah. Di dalam bis, terdapat satu gank anak lelaki yang selalu duduk di paling belakang. Mereka adalah Prik, Manoj, Boy, Dtee, dan pemimpin mereka, Jack (Chaleumpol Tikumpornteerawong). Mereka menjadikan Jeab sebagai bahan ejekan karena selalu bermain dengan perempuan. Untuk bermain dengan para anak laki-laki, Jeab harus menyeberang jalan besar yang ramai oleh mobil dan ia tidak berani melakukannya. Ejekan mereka makin menjadi-jadi saat Jeab memberikan bunga mawar kepada Noi-Naa yang tampil menari di atas panggung pada acara hari anak di sekolahnya. Padahal bunga tersebut sebenarnya adalah pemberian ibu Noi-Naa.

Jeab bersiap menghadapi tes

Jeab bersiap menghadapi tes

Suatu hari, Jack dan teman se-gank-nya kekurangan satu orang untuk bermain sepak bola melawan anak-anak dari grup lain. Jeab kebetulan berada di lapangan bola dan Jack mengajaknya bermain. Jeab tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan membuktikan kemampuannya. Waktu bermain Jeab terbagi dua, yaitu dengan kelompok Noi-Naa dan kelompok Jack. Saat Jeab bersama Noi-Naa, Jack dan kelompoknya bertanding lagi dan kalah. Jack marah kepada Jeab dengan melarangnya bermain bersama lagi. Tapi Jeab tetap bersikeras. Melihat kekerasan hati Jeab, Jack bersedia menerima Jeab kembali dengan syarat harus lulus dari semua tes yang diberikan Jack. Tes demi tes telah dilalui Jeab dan tiba saatnya tes yang terakhir, yaitu memutuskan hubungan dengan Noi-Naa.

Noi-Naa menangis saat Jeab memutuskan hubungan

Noi-Naa menangis saat Jeab memutuskan hubungan

Jeab benar-benar memutuskan hubungan dengan Noi-Naa dengan cara memutus tali karet yang biasa digunakan Noi-Naa untuk bermain lompat karet. Noi-Naa sangat marah dan tidak mau berbicara lagi dengan Jeab sejak kejadian itu. Walaupun akhirnya Jeab diterima masuk ke dalam kelompok Jack, ia juga merasa bersalah, tapi tidak berani mengungkapkan langsung. Suatu hari, Jeab mendapat kabar bahwa Noi-Naa dan keluarga memutuskan untuk pindah rumah.

Jeab bersama Jack dan teman-teman mengejar Noi-Naa

Jeab bersama Jack dan teman-teman mengejar Noi-Naa

Sudah bisa ditebak, pada saat perpisahan, Jeab bangun kesiangan. Ia bersama Jack dan teman-temannya berusaha mengejar dengan motor pengangkut es. Tetapi saat dalam pengejaran, motor tersebut rusak. Jeab masih tidak menyerah dengan berlari mengejar truk yang membawa Noi-Naa dan keluarga yang sedang berhenti karena lampu merah. Belum sempat terkejar, lampu sudah berubah hijau dan truk tersebut berlalu dari hadapan Jeab. Jeab tidak berhasil memberikan tali karet gelang baru sebagai hadiah perpisahan dan tidak pernah bertemu dengan Noi-Naa lagi, hingga saat pernikahan Noi-Naa tiba.

Jeab gagal mengejar Noi-Naa

Jeab gagal mengejar Noi-Naa

Fan Chan disutradari oleh enam sutradara sekaligus yaitu Vitcha Gojiew, Songyos Sugmakanan, Nithiwat Tharathorn, Witthaya Thongyooyong, Anusorn Trisirikasem and Komgrit Triwimol. Pada saat itu, keenam sutradara tersebut masih amatir dan Fan Chan adalah film pertama mereka. Film ini adalah film terlaris pada tahun 2003 dan memiliki pendapatan sebesar 140 juta Baht, jumlah pendapatan yang sangat besar di masa itu.

Seluruh anak-anak dalam Fan Chan

Seluruh anak-anak dalam Fan Chan

Fan Chan bersetting di tahun 1980-an dan diperkuat dengan tata kota yang nostalgic dan lagu-lagu yang memang sedang populer di tahun tersebut. Adegan demi adegan serasa membawa kita kembali ke masa kecil kita (walaupun saya tidak begitu ingat karena di tahun 80-an saya masih balita). Terdapat beberapa adegan yang cukup menghibur sehingga kita bisa tersenyum-senyum sendiri saat melihatnya. Emosi kita juga dapat terpancing saat melihat adegan Jeab berusaha dengan keras mengejar Noi-Naa demi berbaikan kembali. Kemampuan acting anak-anak ini patut diberi 10 jempol karena gaya mereka ber-acting benar-benar natural.

Fan Chan juga pernah dirilis di Indonesia pada tahun 2006 dan di-dubbing ke bahasa Indonesia dengan judul “Cinta Pertama”. Fiesta Films, selaku pemegang hak siar Fan Chan di Indonesia mengatakan bahwa kebudayaan Thailand dan Indonesia memiliki kemiripan, karena itu mereka bersedia menerima proyek dubbing film tersebut. Lagu-lagu Thailand dalam film ini diganti menjadi lagu-lagu Indonesia dari penyanyi yang terkenal di tahun 80-an semisal Iwan Fals, Chrisye, Hetty Koes Endang, dan Ebiet G. Ade.