Tags

, , , , , , , ,

(Sumber: jawapos.co.id) Cacat fisik membuat penderitanya kehilangan kesempatan untuk hidup normal. Salah satunya adalah ketidakmampuan mengoperasikan komputer dan peranti elektronik lain. Namun, solusi untuk masalah itu sudah ditemukan melalui ocular mouse, temuan para ilmuwan Brazil.

Manuel Cardoso, seorang insinyur elektro, suatu ketika datang ke rumah sakit tempat istrinya bekerja. Lulusan Universitas Federal Rio de Janeiro tersebut melihat seorang penderita tetraplegia. Yakni, cacat tubuh yang mengakibatkan kelumpuhan pada kedua tangan dan kaki.

Sang pasien yang dilihat Cardoso sama sekali tak bisa bergerak dan berbicara. “Dia hanya bisa menggerakkan matanya,” ujar Cardoso. Kejadian tersebut benar-benar menyentuh hatinya. Itu pula yang menumbuhkan ide di benak Cardoso agar pasien-pasien lain dengan cacat sejenis bisa mengoperasikan komputer, meski hanya dengan mata.

Sejak itu, Cardoso didukung Paulo Feitosa Foundation mengembangkan cita-citanya. Konsep pun disusun untuk membuat sebuah ocular mouse. Artinya, mouse yang bisa digerakkan dengan kekuatan otot di sekitar bola mata.

Alat tersebut mengubah gerakan mata dan kedipan menjadi gelombang elektronik. Gerakan mata diartikan sebagai gerakan pointer. Kedipan sama artinya dengan klik pada mouse. Kedipan mata kiri sama dengan klik kiri pada mouse. Begitu pula, kedipan mata sebelah kanan diartikan sebagai klik kanan.

Pengembangan perangkat tersebut dimulai sejak lima tahun lalu. Kini Cardoso mulai bisa menikmati apa yang diinginkannya. “Kami ingin mengembalikan kepercayaan diri orang-orang yang mengalami kelainan,” ungkap Paulo Feitosa.

Ocular mouse diedarkan hanya untuk kalangan bisnis. Cara kerjanya melalui elektroda yang dihubungkan ke modul elektronik di komputer. Beberapa elektroda ditempelkan ke kepala dan sekitar mata pasien. Kemudian, berfungsi menggerakkan mouse dengan otot mata.

Akhir Februari lalu, ocular mouse diuji coba di bagian ICU Rumah Sakit Mandaqui, Sao Paulo, Brazil. Matthew, seorang pasien tetraplegia berusia 5 tahun, berkesempatan menguji cobanya untuk kali pertama. Matthew diharapkan bisa bermain games, menulis namanya, dan bahkan menelusuri jagat internet dengan ocular mouse.

“Alat itu tidak mahal, hanya sekitar USD 200 (hampir Rp 190 ribu). Kesulitannya, mencari sukarelawan yang bisa menjadi pelatih secara profesional,” ujar Maria Teresa Torgi Alves, manajer rumah sakit tersebut.