Tags

,

Di Indonesia, mati lampu pada saat hujan deras itu biasa. Tapi mati lampu karena ada pemadaman bergilir? Itu baru luar biasa dan terjadi akhir-akhir ini. Pemerintah Indonesia tidak mampu menyuplai kebutuhan listrik yang terus meningkat, karena itu diadakan pemadaman listrik bergilir dengan dalih “penghematan listrik”.

Sebenarnya “penghematan listrik” yang diserukan oleh pemerintah ini sangat merugikan. Jaman sekarang, listrik merupakan kebutuhan utama selain pangan, sandang, dan papan. Sebagai contoh, tadi sore (pk17.00, tanggal 23/7/2008 ) daerah gading pantai mengalami pemadaman listrik bergilir. Saya sebagai mahasiswa Informatika memiliki pekerjaan sampingan sebagai freelance dan membutuhkan komputer untuk pekerjaan saya. Pada saat listrik mati, otomatis komputer juga mati dan pekerjaan saya jadi terhambat.

Mungkin itu tidak terlalu terlihat merugikan karena cuma menyangkut satu orang saja. Bayangkan sebuah pabrik yang memproduksi barang untuk ekspor impor. Bila listrik mati, mesin-mesin tidak akan bisa berjalan dan proses produksi terhenti. Ini akan berakibat jatuh tempo produksi menjadi kacau dan berakibat terkena denda karena terlewat dari tanggal jatuh tempo.

Untuk mengatasi hal tersebut di atas, pemerintah memberlakukan jam kerja pada hari sabtu dan minggu. Hal ini juga dirasa kurang baik, salah satunya pada penghitungan gaji karyawan. Sebuah perusahaan tentu sudah menentukan prosedur penggajian karyawan pada hari kerja (Senin – Sabtu atau Senin – Jumat). Bila diberlakukan jam kerja pada hari Sabtu dan Minggu, prosedur tersebut akan menjadi kacau dan perusahaan terpaksa menata ulang prosedur baru yang memakan waktu cukup banyak.

Setiap bulan, warga selalu membayar iuran listrik ke PLN. Iuran listrik tersebut juga cukup banyak jumlahnya. Hilang ke manakah uang sebanyak itu sehingga PLN tidak mampu menyuplai kebutuhan listrik? Untuk apa warga harus membayar bila listrik dipadamkan? Semoga hal ini tidak berlangsung lama.